Info Pertanian: Info Pertanian | Plant Biotechnology | Plant Science | Plant Tissue Culture
Kementerian Pertanian RI ● Dinas Pertanian ● Kampus Pertanian ● Dinas Perikanan ● Dinas Kehutanan ● Lain-lain

Tampilkan postingan dengan label Info Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Pertanian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Maret 2014

Antisipasi Bencana Gunung Meletus Terhadap Lahan Pertanian Belum Disiapkan

Antisipasi Bencana Gunung Meletus Terhadap Lahan Pertanian Belum Disiapkan - http://pertaniandotinfo.blogspot.com/
 
Kepala Subdirektorat Dampak Perubahan Iklim, Kementerian Pertanian (Kementan) Gatot Ari Putranto mengakui penanggulangan pertanian yang terkena peristiwa gunung meletus masih belum siap.

"Kita (Kementerian Pertanian-red) masih tergagap dalam penanggulangan bencana di Sinabung dan Kelud. Kita belum siap dalam penanggulangan dan penanganan, tetapi untuk bencana banjir dan longsor kita sudah siap," ujar Gatot saat ditemui usai Lokakarya "Sinkronisasi Kebijakan Penanggulangan Bencana dan Dampak Terhadap Pertanian" di gedung rektorat IPB, Dramaga, Kabupaten Bogor, Kamis.
Gatot menjelaskan, ketidaksiapan yang dimaksudkan adalah, upaya dalam pemulihan lahan pertanian, ganti rugi kerusakan lahan, serta kelangsungan pertanian di wilayah yang terkena dampak erupsi gunung masih belum memiliki model.

Ia mengatakan diperlukan model-model dalam penanggulangan bencana alam gunung meletus karena saat ini penanggulangan bencana yang ada di Kementerian Pertanian fokus terhadap banjir, longsor dan serangan hama.

"Model tersebut seperti perhitungan resiko bencana, bantuan apa yang bisa diberikan, dan sebagainya," ujarnya.


Dikatakannya, untuk dampak bencana banjir, longsor dan hama, Kementerian Pertanian telah memiliki upaya-upaya yang juga didukung oleh alokasi anggaran, sehingga pemulihan pertanian pasca bencana longsor dan banjir bisa teratasi.

Salah satu upaya penanggulangan bencana banjir dan longsor seperti salah satunya Cadangan Bibit Nasional (CBN). Dimana lahan yang rusak akan ditanami kembali dengan bantuan bibit tersebut.

"Untuk gunung meletus ini diperlukan model-modelnya, dan kita baru tahun di IPB kajian tentang penanggulangan bencana ini sudah ada. Kita harapkan IPB bisa membantu membuat model-modelnya," ujar Gatot.

Dampak bencana alam terhadap sektor pertanian cukup besar, seperti di Kelud total kerugian di sektor tersebut mencapai angka Rp1,2 miliar. Sedangkan di Sinabung luas lahan pertanian yang rusak sebesar 26,666.11 hektar.

"Oleh karena itu, kami mengharapkan IPB dapat membantu Kementerian Pertanian dalam melakukan kajian penanggulangan bencana ini sehingga upaya-upaya dan langkah-langkah bantuan apa saja yang diberikan bisa memulihkan kembali produksi pangan," ujarnya.

Lokakarya Sinkronisasi Kebijakan Penanggulangan Bencana dan Dampak Terhadap Pertanian yang diselenggarakan oleh Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) bekerja sama dengan Pusat Studi Bencana LPPM-IPB ini menghadirkan sejumlah pembicara diantaranya, Direktur Pengurangan Resiko Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan, Kepala Pusat Studi Bencana IPB Prof Euis Sunarti, Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Pengabdian pada Masyarakat Dr Hartoyo dan Direktur KPSKP, Dr Dodik Ridho Nurrochmat.

Dr Dodik menyebutkan bencana alam juga memiliki dampak besar pada sektor pertanian. Selama ini upaya penanggulangan bencana yang dilakukan terfokus pada tanggap darurat memberikan bantuan berupa sadang, pangan, pakaian dan papan.

"Sementara penanggulangan bencana di sektor pertanian baru dilakukan secara makro atau umum. Padahal ini membutuhkan penanganan yang cepat, mengingat sektor pertanian akan berdampak tidak hanya kesejahteraan pertanian tapi juga ketahanan pangan kita," ujarnya.

Dodik mengatakan, melalui lokakarya ini KSPK IPB mencoba memaparkan kajian-kajian dampak bencana terhadap pertanian. Dengan harapan pemulihan dampak bencana di sektor pertanian lebih di fokuskan sehingga para petani tidak kehilangan mata pencahariannya dan ketersediaan pangan tetap terjaga.
Sumber: Antara

Pelaku Alih fungsi Lahan Sawah Akan Mendapat Hukuman, Jika Kepala Daerah Terlibat Hukumnya Lebih Berat


Menteri Pertanian RI Suswono mengingatkan, para bupati dan walikota untuk tidak sembarangan mengalihfungsikan lahan persawahan untuk kepentingan lain. Karena jika itu dilakukannya hukuman pidananya tiga kali lebih berat dibanding jika dilakukan oleh rakyat biasa. 

“Undang-undangnya mengatakan seperti itu, karenanya bupati dan walikota tidak boleh sembarangan melakukan alih fungsi areal yang  sudah ditetapkan sebagai lahan persawahan berkelanjutan,” kata Mentan Suswono usai melakukan panen perdana di areal cetak sawah baru di Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, Kamis (20/2).


Dalam UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Pasal 73 berbunyi; Setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin pengalihfungsian Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan tidak sesuai dengan ketentuan dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp1 miliar  dan paling banyak Rp 5 miliar rupiah. 

Mentan mengungkapkan, investasi untuk lahan persawahan sangat mahal karena terkait dengan infrastruktur lainnya, seperti waduk, irigasi, jalan usaha tani, dan lain sebagainya.


“Menjadikan areal pertanian itu tidak  murah, karena terkait dengan infrasruktur lainnya yang investasinya mahal,” ungkap Mentan.


Dan pemerintah saat ini terus melakukan upaya mencetak sawah baru untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Karenanya berapa pun luasnya, jika ada areal yang ingin dijadikan sawah baru, pemerintah siap membantu.


“Ayo saya tantang berapa saja areal yang mau dijadikan sawah, pemerintah siap. Asal kemudian ditetapkan sebagai lahan persawahan abadi yang tidak boleh dialihgungsikan,” tandas Mentan.


Di Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya sendiri Kementan sudah mencetak sekitar 350 hektare sawah. Dengan dana biaya cetak sawah Rp 10 juta per hektare sudah Rp 3,5 miliar bantuan yang diberikan pemerintah. Dan pada kesempatan tersebut, Kementan juga memberikan bantuan mesin penggiling gabah (ricemill), hand tractor, 150 ton benih, dan dana sebesar Rp 3,5 miliar untuk perbaikan irigasi dan pengolahan serelia.

Pada panen perdana padi di areal cetak sawah baru tersebut selain Mentan hadir juga Dirjen Prasaran dan Sarana Pertnian (PSP) Sumardjo Gatot Irianto,  Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Bupati Dharmasraya Adi Gunawan, Anggota Komisi IV DPR Hermanto, dan sejumlah pejabat lainnya.

Pada panen perdana tersebut produksi per hektare mencapai 5,7 ton. Jumlah, yang menurut Mentan, cukup besar untuk kategori sawah yang baru pertama kali dipanen.

Sumber: Kementan

Selasa, 04 Maret 2014

RI Impor Singkong dari China dan Vietnam

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip, Senin (9/7), pada bulan April dan Mei 2012, sebanyak 5.057 ton singkong asal China dengan nilai US$ 1,3 juta masuk ke tanah air. Impor ini kemudian berhenti pada bulan Mei ini.

Sementara itu, pada Mei impor singkong dilakukan dari negara Vietnam. Sebanyak 1.342 ton singkong dengan nilai US$ 340 ribu masuk ke Indonesia.

Dengan demikian, sepanjang tahun ini, negara telah mengimpor singkong sebangan 6.399 ton dengan nilai US$ 1,6 juta dari kedua negara tersebut.

Sebelumnya, berdasarkan data BPS juga, sejak Juli-September tidak ada lagi impor singkong dari negara manapun yang masuk ke pasar Indonesia. Impor singkong tersebut terjadi hanya sampai bulan Juni 2011.

Soal data impor singkong sempat menuai kontroversi. Data BPS bulan Juni, terlihat ada impor singkong sebesar 2,7 ton dengan nilai US$ 20,6 ribu dari Italia. Sementara sebelumnya terdapat impor singkong sebanyak 2,9 ton dengan nilai US$ 1,3 ribu dari China.

Dengan demikian, pada data BPS bulan September yang dikutip detikFinance, tidak ada perubahan terhadap jumlah tersebut sehingga total impor singkong masih mencapai 5,6 ton dengan nilai US$ 21,9 ribu.
Data BPS beberapa bulan lalu Januari-Juni 2011, Indonesia tercatat mengimpor ubi kayu dengan total 4,73 ton dengan nilai US$ 21,9 ribu dari Januari hingga Juni 2011.

Negara Italia merupakan negara sumber impor ubi kayu dengan nilai terbesar yaitu US$ 20,64 ribu dengan berat 1,78 ton. Sedangkan China merupakan negara penyuplai ubi kayu terbesar di dunia hanya berkontribusi yaitu 2,96 ton dengan nilai US$ 1,273 ribu
padahal jika mau jujur negeri kita cukup luas, dan singkong bukanlah tanaman yang sulit dibudidayakan. hanya mungkin bukan komoditas yang bisa menjadi andalan penghasilan, karena waktu tanamnya yang panjang dan harga jualnya yang rendah.

FAO: Vietnam Contoh Negara yang Berhasil Atasi Kelangkaan Pangan


Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Jose Graziano da Silva, memuji kebijakan pertanian Vietnam untuk mengatasi kelaparan dan menaikkan ekpornya di kawasan yang telah lama memerangi masalah kelaparan kronis.
Ia mengatakan, “Vietnam adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang telah menaikkan ekpor dan juga menjamin ketahanan pangan secara lokal, dan ini penting bagi stabilitas politik dan juga perdamaian.”
Asia Pasifik adalah wilayah di mana lebih dari 60 persen penduduk dunia menderita kelaparan dan kekurangan gizi. Konferensi regional FAO memusatkan perhatian pada penemuan cara-cara berkesinambungan untuk menaikkan produksi dalam menghadapi kenaikan harga pangan.
Harga eceran beras di Asia lebih tinggi 10 sampai 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Da Silva memperingatkan harga yang tinggi itu bisa mengakibatkan kerusuhan sosial.
“Kita telah saksikan di banyak negara, tetapi khususnya di negara-negara Arab dan Afrika, keterkaitan antara konflik dan kelangkaan pangan semakin jelas. Ketika orang tidak punya makanan, keamanan ditanggung oleh pemerintah,  ketika mereka tidak bisa membeli pangan dengan harga pantas, konflik muncul,” ujarnya.
Vietnam berkembang dari negara yang mengalami kekurangan pangan 30 tahun menjadi eksportir beras kedua terbesar di dunia setelah Thailand. Tahun lalu negara itu mengekspor 7,2 juta ton beras.
Direktur FAO untuk wilayah Asia, Hiroyuki Konuma, mengaitkan keberhasilan negara itu dengan investasi di bidang penelitian pertanian, dan mendesak negara-negara lain mengindahkan hal itu.
Konuma mengatakan penduduk dunia diperkirakan bertambah sebesar 1 miliar menjelang 2050, yang artinya hanya ada sedikit kemungkinan untuk memperluas lahan pertanian, khususnya di Asia. Itulah sebabnya, katanya, produksi pangan tergantung pada peningkatan panen.
FAO memperkirakan, antara saat ini dan tahun 2050, 91 persen pertambahan dalam produksi pangan akan berasal dari panen yang lebih tinggi. Ia mengatakan penelitian adalah kunci, dan organisasinya bekerja sama dengan negara-negara lain, termasuk Korea Utara, untuk memperbaiki produksi.
“Kami telah melakukan berbagai upaya di Korea Utara. Kami baru saja memulai sebuah program. Contohnya, apabila Korea Utara bisa menaikkan produksi sebesar satu ton per hektar, peningkatan itu bisa mengatasi masalah kelangkaan pangan,” ujar Konuma.
Dalam jumpa pers, Konuma juga mengatakan jenis virus flu burung baru yang merebak di negara-negara di kawasan itu sekarang bisa dikendalikan. Beberapa kematian baru-baru ini akibat H5N1 di Vietnam disebabkan oleh jenis virus lama yang vaksinnya sudah ada.

Buah Mangga Panen 3 Kali Setahun!

pohon mangga
Pertama kaget juga baca judul itu, pohon mangga saya saja setahun sekali terkadang males. Kalau gak rontok kena hujan ya memang tidak mau berbunga. Tapi di Jawa barat ada seseorang yang bernama H Suraden katanya bisa membuahkan mangga 3 kali setahun. Langsung baca di sumbernya saja.

Malai Padi 450 butir Hasil Panennya Mengecewakan

 http://pertaniandotinfo.blogspot.com/
Panen berlimpah adalah harapan semua petani, untuk mencapai target itu banyak cara dilakukan mulai pemupukan,pengairan, pemilihan varietas padi yang unggul dan tentu saja pencegahan serangan opt. Petani akan bahagia jika malai padinya panjang dengan   butir gabah berisi sampai pangkal "bernas".

Dengan pemikiran semakin panjang malai (jumlah butir yang banyak) maka hasil akan meningkat, saya tergiur ketika melihat padi disuatu pameran produk pertanian. Padi itu memiliki malai dengan jumlah gabah 450 butir. Padi dengan tinggi hampir 1 meter jika diukur sampai daun benderanya, batangnya besar dan kuat. Akhirnya saya membeli untuk saya tanam di lahan seluas 4500 m2, pada musim tanam ke-1 saat musim hujan.

Sejak mulai di persemaian, pertumbuhan padi yang belum memiliki nama ini sangat luar biasa. bahkan umur 19 hari di persemaian sudah siap dipindah tanamkan dari biasanya umur 23 hari. Setelah pindah tanam perkembangan padi ini bisa dibilang sangat cepat dibanding varietas lain yang saya tanam (wai apu buru) bahkan saya bisa mengurangi penggunaan pupuk N, karena perkembangan daunnya yang terlalu lebat. Mungkin bukan lebat, tapi karena bentuk fisik daun padi ini yang lebar dan panjang sehingga membuatnya rimbun lebat meski jumlah anakannya tidak terlalu bayak, antara 11-15 anakan produktif. Dan kondisi ini yang menyebabkan kelembaban meningkat sehingga ketika malai sudah mulai berisi serangan busuk leher menjadi sangat luar biasa.

Dan panenpun tiba, dengan serangan busuk leher yang tidak bisa saya atasi. Akhirnya saya bisa membawa pulang gabah seberal 3000kg kondisi panen musim penghujan, padahal biasanya jika saya tanami padi varietas ciherang bisa menghasilkan gabah seberat 4500 kg.

Busuk leher karena kelembaban tinggi akibat lebatnya daun menjadi penyebab merosotnya hasil panen musim ini, itu analisa saya! akhirnya saya mencoba lagi padi bermalai 450 butir ini saat musim tanam kedua. Pikir saya jika cuaca kering kelembaban rendah maka busuk leher bisa diminimalisir.

Tetapi tetap saja hasil panen pada musim tanam kedua padi dengan malai 450 butir ini makin mengecewakan, meski serangan busuk leher bisa dikatakan tidak ada saya hanya berhasil membawa pulang gabah 2790 kg, sedangkan pada musim tanam kedua tahun sebelunya saya memperolah gabah seberat 3800 kg dengan padi varietas ir64.

Kenapa? itu pertanyaan yang dalam hati saya, malai padi 450 butir kok kalah dengan malai padi 120 butir. Memang secara kasat mata banyak gabah hampa, tapi masih dalam batas wajar. atau karena banyaknya jumlah butir menyebabkan pengisiannya tidak maksimal sehingga jumlah perseribu butirnya kalah dengan padi dengan malai 150 butir (varietas ciherang,wai apu buru). Tapi sementara pertanyaan itu saya simpan dihati saja karena saya kapok menanam padi dengan malai 450 butir itu:).

Memburu Potensi Hasil Panen Berlimpah Dari Varietas Ciherang dan Membramo

 http://pertaniandotinfo.blogspot.com/
Setiap varietas padi memiliki deskripsi yang merupakan kelebihan dari padi tersebut, dan diyakini oleh petani di desaku  tiap varietas menyimpan potensi hasil yang berbeda. Meski hasil juga dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kondisi lahan, serangan OPT dan perlakuan selama masa budidaya.

Pada musim tanam padi ketiga kali ini saya mencoba menanam varietas Ciherang dan Membramo dicampur dengan perbandingan 1:1 pada lahan seluas 4500 m2. Pada musim tanam kedua pada lahan ini ditanami padi varietas IR64 dan berhasil memanen gabah sebanyak 3800kg. Meski potensi hasil panen berlimpah dari varietas Ciherang dan Membramo adalah kabar yang tersebar diantara petani, tetapi bukan suatu hal yang salah untuk mencobanya. Atau setidaknya jika ternyata hasilnya sama dengan varietas lain tetapi dengan menanam padi Varietas Membramo saya akan memiliki beras berkualitas tinggi dengan harga jual yang lebih tinggi dari beras varietas lain. Ya walau bukan beras Varietas Membramo 100 %.

Penggunaan pupuk yang akan diterapkan pada musim tanam ketiga kali ini sama dengan musim tanam kedua, dalam hal jumlah dan waktu aplikasi. Hanya untuk pestisidanya saya akan menggunakan Verticillium,sp dan Coryne bakteri untuk mencegah hawar daun. Oya, kalau stok Trichogramma,sp tersedia juga akan saya terapkan untuk mencegah serangan penggerek batang.


Potensi hasil yang saya harapkan dari pemilihan varietas ini adalah 4500 kg, tetapi untuk hasil yan sebenarnya tentu harus menunggu panen yang masih 3 bulan lagi:),.........sabar menanti.itulah petani

Hasil Panen Padi Inpari 13 Kurang Bagus!

 http://pertaniandotinfo.blogspot.com/
Hasil panen padi Inpari 13 kurang bagus! Itu adalah hal pertama yang saya dengar tentang padi inpari 13, ketika sedang ada pertemuan rutin KTNA. Saat itu kebanyakan petani mengeluh dengan hasil panen padi Inpari 13 mereka. Keluhannya adalah randemen beras yang jauh dari harapan. Mereka mengklaim penyebab rendahnya randemen beras dikarenakan kulitnya yang tebal.
Kabar tentang kelemahan padi Inpari 13 tersebut tidak menyebabkan saya mengurungkan niat untuk menanam padi Inpari 13, kelebihan usia tanam yang singkat menjadikan salah satu pertimbangan saya memilih padi Inpari 13 untuk saya tanam di lahan saya yang tidak dilalui saluran irigasi.
Tapi ujian dalam menanam padi Inpari 13 tidak berhenti sampai disitu, ketika padi sudah memasuki usia panen, pedagang padi (penebas) banyak yang menolak membeli dari lahan dengan berbagai alasan, alasan paling umum adalah kurang “esel” (hasil gabah tidak sesuai penampilan). Hmm, trik mencari harga murah. Akhirnya ketika panen tiba semua keraguan petani terjawab!! hasil panen padi Inpari 13 tidak lebih rendah dari padi varietas lain. Dan saya menilai hasil panen padi Inpari 13 bisa lebih bagus dari itu, karena ketika artikel ini ditulis yang sudah panen duluan adalah padi Inpari 13 yang pada awal masa tumbuhnya terkena hama sundep pada lahan ini menghasilkan gabah KL 7,5 ton dan satu lahan lagi terkena penggerek batang dan busuk pelepah pada lahan ini menghasilkan gabah KL 6,9 ton.
Update: pada lahan yang padi Inpari 13 nya tidak terganggu hama, per ha mendapat gabah KL 8,10 ton.
Tinggal satu pertanyaan lagi, yaitu tentang randemen beras. Karena masih menunggu proses pengeringan. Jadi sabar, tunggu update selanjutnya.

Update: hasil beras setelah digiling adalah 62,5 kg dari 100 kg gabah kering, hmm bukan hasil yang bagus, pasti ada yang salah.

Update lagi: setelah berganti mesin penggilingan, ternyata per seratus kilo beras kering menghasilkan beras 64,47kg,

Untuk lahan sawahku hasil tersebut bukanlah hasil yang buruk, dari rata-rata 65-66 kg beras per 100 kg gabah kering

Panen ikan lele dalam 2,5 bulan

Setelah 2,5 bulan benih lele ukuran 2-3 akhirnya panen juga, dari kolam ukuran 6 X 3,5 meter dan kedalaman air 70cm dengan jumlah bibit 6000 ekor kami berhasil memanen 4,5 kw lele. Rata-rata 8-10 ekor per kg.

Jumlah bibit yang kami tebar memang melebihi standar dari yang disarankan, tentu saja ada resiko dari kepadatan tebar sebanyak itu yaitu air mudah sekali tercemar dan solusinya dengan melakukan pergantian air sebanyak 2 kali, pagi dan sore (sebelum pemberian pakan tentunya).

Mungkin karena pergantian air yang rutin kami lakukan, panen ikan lele kami lebih cepat dari biasanya. Tentu saja sebanding dengan pakan yang kami berikan.

Akan kami coba sekali lagi untuk memastikan bahwa pergantian air yang rutin kami lakukan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertambahan bert ikan lele kami.






Internet, cuaca dan pertanian

 http://pertaniandotinfo.blogspot.com/
Cuaca dan pertanian adalah dua hal yang sangat terkait, terkait karena pertanian merupakan pekerjaan yang sangat bergantung dengan kondisi cuaca. Meski tidak mutlak tetapi hasil pertanian akan lebih maksimal jika cuaca sangat mendukung. Lalu bagaimana dengan internet apa hubungannya?
Fenomena cuaca yang mudah berubah-ubah membuat tidak mengikuti pola yang tetap membuat pertanian menjadi pekerjaan yang lebih komplek. Seperti saat artikel ini ditulis, ketika awal musim tanam padi sekitar bulan maret, hujan sudah tidak turun selama hampir 2 bulan. Banyak petani yang memutuskan untuk menanam jagung, baru jagung usia 5 hari tiba-tiba hujan turun selama 4 hari berturut-turut. Setelah itu hujan berhenti selama 2 bulan. Dan baru hujan ketika padi hampir panen, dan kondisi ini juga mempengaruhi keputusan komoditas apa yang akan ditanam selanjutnya.
Mengantisipasi perubahan cuaca yang tidak menentu seperti ini akan lebih bagus jika petani mengetahui sedikit tentang prakiraan cuaca, setidaknya untuk 1 bulan kedepan dan yang menjadi rujukan saya selama ini adalah accuweather.com. Selama hampir dua tahun saya menggunakan prakiraan cuaca dari situs ini, potensi keakuratannya bisa dikatakan mendekati.. ya 80%. menurut penilaian saya.
Menurut hemat saya mengetahui kondisi cuaca selama 1 bulan kedepan akan sangat membantu kita memutuskan langkah apa yang terbaik untuk pertanian kita, semisal kapan saat yan tepat untuk mulai tanam, mulai panen atau jika kita tahu 1 bulan kedepan cuaca berawan biasanya bisa dipastikan harga gabah dan jagung akan turun, maka kita bisa segera menjualnya untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Itu sedikit gambaran pengalaman saya mengaplikasikan teknologi internet untuk mengakses prakiraan cuaca dan menerapkannya dalam dunia pertanian.

Bertani Seirama Dengan Alam


 http://pertaniandotinfo.blogspot.com/Dewasa ini kebanyakan petani mendapat ilmu pertaniannya sebagaian besar dari produsen saprotan, bukan suatu hal yang salah sebenarnya, karena produsen saprotanpun telah menguji ilmu atau teknik budidayanya sebelum mensosialisasikan kepada petani. Dan karena mereka produsen maka penekanan teknik budidayanya adalah penggunaan saprotannya. Dan sedikit bertentangan dengan metode pertanian yang sudah umum, saya akan menceritakan teknik bertani yang bagi kebanyakan petani adalah pertanian “kuno”.
Jika anda adalah petani generasi lama, pasti anda kenal istilah bertani “angon mongso” terjemahan bebasnya bahwa memulai bercocok tanam harus memperhatikan musim. Mungkin anda akan membantah dulu belum ada irigasi yang bagus, belum ada mesin pompa air. Maka setiap bercocok tanam harus menunggu hujan turun. Mungkin itu benar, tapi yang saya maksud bukan hanya masalah air. Jaman kakek dan sebelumnya mereka punya petuah-petuah bijak misalnya salah satunya jangan tanam padi bulan maret, katanya tanaman akan “meret-meret” (sulit tumbuh). Kalau dilihat kenyataan padi yang ditanam bulan maret memang kurang bagus pertumbuhannya jika dibanding bulan sebelum atau tanggal mendekati bulan april. Begitu pula dengan hama, pada bulan itu hama sundep juga berkembang dengan sangat ganas. Dan musim tanam kali ini hal itu terbukti, yan tanam bulan maret 80% rusak karena hama. Sedangkan yang ditanam bulan april relatif lebih mudah tumbuh dan tidak terlalu banyak hama yang mengganggu.
Mungkin terlalu dini jika menyimpulkan ada kaitan antara bulan (dalam hal ini untuk memulai bercocok tanam) dengan pertumbuhan tanaman (padi) dan perkembangan hama. Tetapi kearifan petani kuno juga bukan suatu hal yang dianggap remeh dan mengada-ada. Sangat mungkin petani kuno memiliki intuisi untuk seirama dengan alam, mereka mungkin tahu kapan saat yang tepat untuk hama berkembangbiak sehingga harus menghindarinya, dan kapan lingkungan mendukung perkembangan tanaman. Hanya mungkin mereka tidak bisa menjelaskan secara ilmiah.
Tak ada salahnya warisan leluhur kita harus mulai dilestarikan dan dikaji lebih dalam.
Oya, itu adalah tradisi petani di desa saya bagaimana dengan daerah anda?

Membangun Irigasi Membangun Pertanian

http://pertaniandotinfo.blogspot.com/
Tidak bisa dipungkiri bahwa air dan pertanian sangat terkait, terutama dalam pertanian tanaman padi. Seperti yang kita ketahui tanaman padi lebih banyak membutuhkan air untuk mencapai hasil yang maksimal dibanding dengan tanaman lain.

Dibeberapa lahan pertanian yang belum tersentuh saluran irigasi, atau ada saluran irigasi tapi tidak ada air yang melewatinya, petani mengandalkan pengairan lahan pertaniannya menggunakan mesin pompa air. dan pembengkakan biaya produksi makin terasa ketika menanam padi musim yang kedua (bulan april). sebagai gambaran di lahan yang memiliki struktur tanah yang porous kebutuhan bbm bisa mencapai kurang lebih 500 liter. memang tidak semua lahan butuh sebanyak itu, tapi akan lebih baik jika saluran irigasi yang sudah ada dimaksimalkan.

Petani kita bukanlah sekumpulan orang malas atau manja, mereka tetap berusaha dan bersemangat dalam keterbatasannya. Dengan membangun irigasi yang baik dengan sendirinya target produksi (dalam hal ini beras) dapat terpenuhi. swasembada beras pasti tercapai.

Dilema Pemberian Pupuk Pada Tanaman

http://pertaniandotinfo.blogspot.com/
Harga pupuk mahal saya yakin semua petani tahu dan sangat memakluminya, meski berharap andai jika lebih murah. Jika kita membahas pupuk pada pertanian tanaman jagung, dengan alasan mahalnya pupuk. petani mencari solusi dengan menggunakan limbah cair dari perusahaan penyedap rasa. dulu, limbah ini dimanfaatkan pada tanaman tebu, karena limbah ini hasil pengolahan dari molase yang merupakan limbah  dari proses penggilingan tebu.

Yang jadi masalah adalah limbah itu apa layak diaplikasikan untuk tanaman atau bahan apa saja yang terkandung di dalamnya, apa dampaknya bagi lahan pertanian dan tentu saja apa ada dampak jangka panjang bagi kesehatan?. Tetapi jika ditanya mengapa petani masih menggunakannya? karena setelah dikocorkan dijamin jagung akan tumbuh dengan cepat dan warna daun hijau gelap.

Selain mengkuatirkan tentang kandungan limbah yang biasa di sebut Sipermin tersebut, jumlah pemakaian yang tidak wajar juga sangat memprihatinkan, petani biasa mengocorkan sekitar 15ribu lt untuk satu hektarnya.

Sampai saat ini belum ada penelitian yang detil untuk mengetahui dampaknya terhadap lahan pertanian, dan pihak yang berkompetenpun hanya bisa menyarankan untuk menghentikan pemakaian. dan saya sendiri sebagai petani hanya bisa merasakan ada yang berubah dari lahan pertanian yang dikocor dengan limbah tersebut.

Ya.. petani, kebanyakan adalah masyarakat dengan sdm yang kurang, mereka ingin ambil mudah dan murahnya saja. seharusnya ada pihak yang bisa tegas menghentikan praktik pembuangan limbah tersebut dilahan pertanian. Untuk masa depan generasi selanjutnya.

Kondisi Pertanian jagung di Nganjuk

 http://pertaniandotinfo.blogspot.com/Pada awalnya, kurang lebih 15 tahun lalu. Jagung bukanlah komoditas pilihan apalagi andalan petani Nganjuk. Saat itu yang jadi andalan adalah kedelai, dengan alasan murahnya biaya produksi (tidak membutuhkan banyak air) dan sebaliknya jagung kurang populer karena membutuhkan biaya yang lebih dibanding kedelai. Tetapi sekitar tahun 1995 terjadi ledakan hama kedelai. saat itu hama ulat berkembang sangat luar biasa. penggunaan pestisidapun sudah tidak efektif, dan pengendalian terbaiknya dengan cara manual (diambil satu-satu) pada malam hari pula. ketika serangan ulat belum bisa diatasi muncul serangan cabuk, terutama cabuk merah yang langsung membunuh kedelai.

Dan pilihan berganti pada tanaman jagung menjadi hal yang paling bijak, dan paradigma biaya produksi jagung lebih mahal sedikit demi sedikit mulai terkikis. kebutuhan airpun dipenuhi dengan penggunaan mesin pompa air.

Tetapi bukannya tanpa kendala, akhir-akhir ini pertanian jagung yang pernah jadi primadona juga memiliki sejumlah kendala yang butuh dipikirkan bersama solusinya. jika setahun lalu karena ada anomali cuaca serangan bulai begitu ganas dan menyebabkan ribuan hektar tanaman jagung gagal panen, saat ini kendalanya mungkin lebih pada harga jual yang tidak bisa ditingkatkan. Dari pengamatan saya, mungkin karena di Nganjuk sepanjang tahun bisa kita jumpai lahan pertanian jagung yang cukup luas, dibeberapa lahan pertanian di pegunungan mulai konversi menjadi lahan tanaman jagung. Masalah yang tak kalah menariknya adalah penggunaan limbah cair untuk "pupuk" yang sampai saat ini menjadi dilema. Dan jangan lupakan dulu pernah beredar benih palsu, untuk masalah ini petani tidak perlu terlalu cemas aparat sangat sigap mengatasinya.

Meski banyak kendala dalam pertanian jagung, tetaplah jagung menjadikan pilihan teraman bagi petani, apalagi hanya tanaman jagung yang bisa diberi tanaman sela seperti kacang hijau, kacang panjang, metimun dll. Tapi tetap saja petani butuh solusi jangka panjang dengan harapan petani bisa lebih sejahtera dari hasil bertaninya. Misalnya dengan mengenalkan teknologi pertanian terbaru sehingga petani dapat bertani dengan lebih efektif. Dan kebijakan yang memihak petani juga tak kalah penting.

Semoga petani sejahtera.

sumber gambar : voaindonesia.com

Banyak program Dinas Pertanian Nganjuk dinilai basa-basi


Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur yang memiliki anggaran besar, namun disinyalir banyak program kerja yang bersifat basa-basi. Kegiatan tersebut tidak memberian kontribusi signifikan terhadap pendapatan petani.Lebih-lebih kinerja aparatur pertanian di bawah, tidak melakukan tugasnya dengan profesional. Hal tersebut dapat dilihat dari sejumlah petugas penyuluhan lapangan (PPL) dan cabang dinas hanya melakukan tugas-tugas administrasi berupa rekomendasi pendistribusian bantuan.
“Harusnya, mereka memberikan bimbingan teknis kepada petani, bukan hanya ngurusi administrasi,” tutur Anggota Komisi A DPRD Nganjuk, Marianto, Selasa (25/06/2013).
Dalam hitungan angka-angka, lanjut politisi PDI-P, produktifitas pertanian di Nganjuk hingga tahun 2013 cenderung melampaui target yang ditentukan. Sehingga capaian kinerja pemerintah dalam urusan pertanian dapat dikatagorikan tercapai. Hanya saja, apakah peningkatan produktifitas pertanian serta merta karena intervensi pemerintah?
Menurutnya, masih perlu dikoreksi, intervensi pemerintah dalam bentuk pemberian bantuan saprodi sering tidak sesuai kebutuhan petani.
“Begitu juga program yang lain masih belum signifikan berpengaruh terhadap pengembangan pertanian. Atas kinerja dan kegiatan yang dilakukan oleh dinas pertanian, maka DPRD Nganjuk memberikan koreksi, saran dan masukan,” tegasnya.
Kebasa-basian kegiatan juga terjadi pada bidang pengembangan peternakan. Sehingga berdampak kepada peningkatan produktifitas ternak yang dikelola oleh para petani ternak. Pemerintah cenderung mengedepankan program yang bersifat rutinitas, belum menunjukkan adanya gebrakan untuk memberikan motivasi petani ternai agar mengeksploitasi usahanya.
“Padahal, bantuan DAK perikanan memiliki manfaat dan dampak yang baik, mengapa tidak dijalankan dengan baik,” ujarnya.
Sedangkan, masalah pelayanan kesehatan hewan, dewan menyoroti tidak tersedianya pusat kesehatan hewan yang di dalamnya dilengkapi dengan dokter, perawat dan sarana prasarana kesehatan.
“Hal ini penting untuk mengantisipasi penyakit dan meningkatkan populasi hewan ternak yang ada di masyarakat,” pungkasnya.@sahinlensa

Sabtu, 01 Maret 2014

Ekspor Beras Organik Tidak Akan Mengganggu

Ekspor Beras Organik Tidak Akan Mengganggu

Pemerintah berniat terus membuka keran ekspor beras, terbatas beras organik. Ekspor beras organik —selain beras premium dan aromatik sebanyak 100.000 ton—tidak akan mengganggu pasokan beras nasional.

”Yang prospektif adalah ekspor khusus beras organik yang ternyata minatnya cukup besar. Para pengusaha ingin agar ekspor beras (secara umum) dilakukan. Namun, untuk beras organik sangat sedikit jumlahnya dan sertifikasinya sangat ketat. Jadi akan kami lihat setelah Juni kemungkinan ekspornya,” ujar Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi, Senin (6/4) di Jakarta.

Menurut dia, ekspor beras organik sangat menarik karena harga jualnya sangat tinggi, yakni Rp 15.000-Rp 20.000 per kilogram di pasar internasional.
Namun, kendalanya adalah sangat sulit mendapatkan sertifikasi organiknya karena ditetapkan setiap tahun.

Ketahanan pangan

Menanggapi rencana itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoeso mengatakan, ekspor beras organik tahun 2009 bisa dilakukan sampai dengan 300.000 ton di luar rekomendasi ekspor beras premium dan aromatik 100.000 ton.
”Ekspor beras organik maksimal 300.000 ton tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional,” katanya.

Sutarto mengakui, sampai sekarang produksi beras organik memang belum dihitung secara cermat. Pasalnya, fokus pemerintah pada peningkatan produksi beras yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.

Menurut Sutarto, beras organik adalah beras yang dihasilkan dari sistem budidaya padi yang menggunakan pupuk organik dan pestisida nonkimia sintetis.
Bayu menambahkan, penghasil beras organik yang sudah memperoleh sertifikasi internasional adalah petani di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan Tasikmalaya, Jawa Barat.
Tahun ini, Pemerintah Indonesia memutuskan ekspor beras premium dan aromatik sebanyak 100.000 ton. (OIN/MAS)
http://cetak.kompas.com
Selasa, 7/4/2009

http://informasi-pertanian.blogspot.com/2009/04/peluang-besar-mengisi-pasar-buah.html

Jumat, 28 Februari 2014

126 Ha Padi Diserang Penggerek Batang


126 Ha Padi Diserang Penggerek Batang

Hama penggerek batang mengganas di sejumlah wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten. Hal ini menyebabkan kerugian besar pada petani, karena tanaman padi mereka menjadi kering dan mati. Hingga Kamis (19/2) luas serangan diperkirakan mencapai 126 hektar.

Serangan hama penggerek batang atau yang oleh petani sering disebut sebagai hama ingser/beluk, antara lain telah menyerang hamparan tanaman padi di wilayah Kaligawe Kecamatan Juriwing. Tanaman padi yang baru berumur sekitar satu minggu hingga dua minggu tampak seperti terbakar, layu dan akhirnya mati. Beberapa patok di antaranya dibiarkan, tidak dirawat lagi, karena petani sudah kesulitan untuk memberantas hama tersebut.

Beberapa petani kepada KR, Kamis (19/2) kemarin mengemukakan, mereka dipusingkan oleh hama yang menyerang batang padi tersebut. Serangan sudah terjadi dalam sepekan terakhir dan cepat menyebar ke seluruh lahan dalam blok persawahan di pinggir jalan tersebut.

Semula mereka telah berupaya untuk menyelamatkan tanamannya dengan menyemprotkan insektisida, namun hal itu tidak memberikan hasil maksimal. Serangan cukup ganas, sehingga tanaman yang masih pendek itupun menjadi layu kering dan mati. “Wah sudah tidak kurang-kurang yang mengobati, tetapi ingser memang sulit diberantas,” kata Parto, salah seorang petani setempat.

Hal senada juga dikatakan oleh Tinoyo, petani di wilayah Karangdowo. Di wilayah ini hama ingser sudah menyerang beberapa waktu lalu. Serangan justru pada tanaman yang sudah mulai berbuah, dan ini lebih sulit diberantas, dan menimbulkan potensi padi yang terserang menjadi puso. “Kan batangnya yang diserang, kalau padi sudah mulai katak, batang patah, makanan tidak bisa sampai ke pucuk, akibatnya padinya gabug (puso), petani di sini menyebut hama beluk,” kata Tinoyo.

Kasubdin Pertanaman Pangan di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Klaten Ir Wayu Prasetyo didampingi Kasi Bina Rehabilitasi Lingkungan, Joko Siswanto mengemukakan, lahan pertanian yang terserang hama penggerek batang tersebut hingga kemarin mencapai 126 hektar, tersebar di lima wilayah kecamatan.

Hama penggerek batang sebenarnya mudah dikenali. Yakni dengan banyaknya kupu-kupu putih yang beterbangan di sekitar lahan.

Apabila melihat fenomena tersebut petani diharapkan waspada. Antisipasi perlu dilakukan sejak masih dalam persemaian. Yakni benih padi di persemaian perlu disemprot dengan insektisida. Namun, apabila kupu sudah bertelur, harus disemprot dengan trichoderma, agar telur tidak menetas.

Lebih lanjut dijelaskan, kondisi musim saat ini memang sangat mendukung berkembangbiaknya hama tanaman, baik penggerek batang, wereng maupun tikus. Menurut Joko Siswanto, kalau penggerek batang menyerang tanaman pada masa vegetatif (umur 1-2 minggu) masih bisa diberantas dan kemungkinan bisa panen. Namun, apabila menyerang tanaman pada masa generatif, akan menyebabkan padi tidak berbuah. (Sit)-g

Kamis, 27 Februari 2014

Empat Kabupaten Rawan Pangan Kronis

 Empat Kabupaten Rawan Pangan Kronis


Empat kabupaten di Jawa Tengah berdasarkan penilaian Badan Ketahanan Pangan setempat tergolong daerah rawan pangan kronis. Hal ini antara lain karena tingkat kemiskinan penduduk melebihi 30 persen sehingga akses pangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sangat lemah.

"Daerah yang tergolong rawan adalah Wonosobo, Brebes, Rembang, dan Purworejo. Hal itu berdasarkan hasil penilaian meliputi 14 indikator," kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Jawa Tengah Gayatri Indah Cahyani pada Pertemuan Pemantapan Ketahanan Pangan Kabupaten atau Kota Se-Jawa Tengah, di Ungaran, Kabupaten Semarang, Kamis (19/2).

Menurut dia, indikator tersebut antara lain ketersediaan pangan, akses menuju pasar, atau penyerapan pangan jenis serealia oleh masyarakat. Selain daerah kronis itu, ada pula sejumlah daerah yang rawan pangan transient, yaitu terjadi jika terkena bencana.

Gayatri mengatakan, rawan pangan kronis di empat kabupaten tersebut tidak berlangsung menyeluruh, tetapi tersebar di sejumlah desa atau kecamatan. Upaya mengentaskan dari kerawanan pangan melalui program aksi desa mandiri pangan. Diharapkan masyarakat bergerak, memanfaatkan potensi di desa guna meningkatkan pendapatan sehingga akses pangan masyarakat juga meningkat.

"Perlu memperjelas sinyalemen itu, jangan keliru. Purworejo itu ijo royo-royo, Brebes juga. Wonosobo kentangnya besar-besar. Coba renungkan data itu. Kalau benar, berarti harus bekerja lebih keras lagi," ujar Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo.

Bibit mengakui, angka kemiskinan dan tingkat pengangguran di Jateng masih tinggi. Namun, dia ragu ada warga yang sampai tidak dapat makan sama sekali di Jateng.
Bibit justru balik bertanya kepada Kepala Badan Ketahanan Pangan yang melaporkan bahwa beras, jagung, dan ubi kayu di Jateng surplus 2,3 juta ton.

"Tadi mereka melaporkan surplus pangan. Mengapa katanya ada kerawanan pangan? Sing bener sing endi (yang benar yang mana)?" tanya Bibit.
Bibit menyesalkan kondisi irigasi dan waduk di Jateng yang semakin parah, tetapi kurang mendapat perhatian dari wali kota dan bupati. Menurut dia, dari sembilan waduk utama di Jateng, hanya satu waduk yang tetap berfungsi saat musim kemarau, yaitu Waduk Kedung Ombo.

"Kalau hujan air penuh sampai meluber, tetapi kalau kemarau hanya satu yang berfungsi, yang lain senen-kemis. Saya minta perhatian dari pemerintah pusat karena dana yang dibutuhkan bukan lagi miliaran, tetapi mungkin triliunan. Jateng adalah penyangga pangan nasional," katanya. (GAL)

Rabu, 26 Februari 2014

Peluang Besar Mengisi Pasar Buah Domestik


Peluang Besar Mengisi Pasar Buah Domestik

Kamis, 9 April 2009 | 03:51 WIB
Jakarta, Kompas - Pemerintah segera mengeluarkan kebijakan memberikan peluang lebih besar bagi pengusaha agrobisnis buah-buahan lokal untuk mengisi pasar buah domestik, yakni dengan melakukan verifikasi terhadap semua produk buah-buahan impor, mengacu pada tingkat perlindungan pangan yang memadai (appropriate level of protection/ALOP).

Kepala Badan Karantina Pertanian Departemen Pertanian Hari Priyono, Rabu (8/4) di Jakarta, mengungkapkan, dengan kebijakan itu, semua produk buah-buahan yang masuk ke Indonesia diharapkan lebih terjamin keamanannya. Ini terutama dari cemaran residu pestisida.
”Begitu buah-buahan yang masuk semakin berkualitas, maka yang dapat masuk menjadi semakin terbatas sehingga akan lebih kondusif bagi produk buah lokal,” tutur Hari.
Hari menuturkan, selama ini buah impor yang masuk ke Indonesia tidak semuanya memenuhi syarat batas cemaran residu pestisida yang bisa ditoleransi. Hal ini yang membuat buah-buah impor itu bisa dijual dengan harga relatif murah sehingga ”menggusur” buah produk lokal.
Hari mengakui, buah impor yang masuk ke Indonesia tidak diverifikasi sehingga belum tentu aman bagi kesehatan, karena bisa jadi mengandung zat biologi dan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Menurut Hari, draf Peraturan Menteri Pertanian tentang Produk Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) akan ditandatangani bulan ini. ”Draf sedang disempurnakan, khusus yang menyangkut tata hubungan kerja dalam implementasi kebijakan tersebut,” katanya.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal Dewan Hortikultura Nasional (DHN) Karen Sjarief menyatakan, hal itu akan menjadi peluang yang baik bagi pengusaha dan petani buah-buahan. ”Mereka memiliki peluang besar mengisi pasar buah domestik dengan buah lokal,” ujarnya.
Namun, Karen mengingatkan agar kebijakan itu dijalankan dengan baik dan konsisten, tidak hanya berhenti pada kebijakan. ”Tanpa ada konsistensi, akan membingungkan pengusaha dan petani yang sudah telanjur investasi,” katanya.

Dengan penduduk 230 juta jiwa, seharusnya Indonesia tidak perlu berpikir untuk mengekspor buah karena kebutuhan domestik sudah relatif besar.
”Produk buah-buahan dalam negeri seharusnya bisa diserap pasar dalam negeri,” kata Karen.

Impor meningkat

Data Departemen Pertanian menunjukkan, impor buah-buahan terus meningkat setiap tahun. Tahun 2003, total impor buah-buahan hanya 228,45 juta ton dengan nilai 194,86 juta dollar AS, tahun 2006 menjadi 427,48 juta ton senilai 337,52 juta dollar AS.
Tahun 2007, impor sudah mencapai 475,46 juta ton dengan nilai 387,95 juta dollar AS, atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun 2003.
Ironisnya, buah yang paling banyak diimpor bisa dikembangkan di dalam negeri, antara lain, jeruk, pisang, mangga, nenas, durian, pepaya, jambu biji, dan lainnya.
Oleh karena itu, kata Karen, kebijakan pemerintah itu sebaiknya diimbangi peningkatan kapabilitas petani dan pengusaha dalam memproduksi buah-buahan dengan kualitas bagus. (MAS)

Selasa, 25 Februari 2014

Pertanian Wonosobo


Oleh Haryati

Pertanian.Info - Wonosobo - SETIAP musim hujan tiba, berita tentang musibah tanah longsor dan banjir terdengar di mana-mana. Sedihnya, tidak hanya korban harta benda yang muncul, tapi tak jarang bencana alam tersebut juga memakan korban manusia. Sejumlah nyawa manusia melayang akibat kejadian yang datang tak pernah diduga-duga sebelumnya itu.

Wonosobo sebagai daerah pegunungan yang bercurah hujan tinggi, tak terlepas dari ancaman banjir dan tanah longsor. Fakta membuktikan, hampir tiap musim hujan kota itu menjadi langganan bencana tanah longsor dan banjir. Kondisi alamnya yang berbukit-bukit dan lingkungan yang rusak memang rawan terjadi musibah bencana alam.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, menurut data Balai Pemantapan Kawasan Hutan BPKH XI Yogyakarta, tercatat di kota ber-motto ASRI (aman, sehat, rapi dan indah) itu, terjadi 17 kali banjir dan 70 kali tanah longsor. Belum lagi musibah yang tidak terpantau oleh pemerintah kabupaten (pemkab) yang melanda lahan-lahan warga.

Musibah terakhir menimpa dua warga Gondang Watumalang dan Pungangan Mojotengah, yang meninggal akibat tertimpa longsoran tanah ketika kerja bakti menyingkirkan tanah longsor yang menutup saluran air di irigasi sungai Tunda Desa Pungangan, Kecamatan Mojotengah, belum lama ini.

Sebelum itu, juga dikabarkan di Desa Suroyudan, Sukoharjo, tanah permukiman warga mengalami retak-retak dan jika dibiarkan bisa terjadi longsor. Warga pun diimbau untuk memindahkan permukimannya ke lokasi lain yang relatif lebih aman. Hal yang sama juga terjadi di wilayah Kepil.

Memang, sebagian desa di 15 kecamatan di kota itu kondisi alamnya naik-turun. Bahkan, tidak sedikit permukiman warga yang berada di tebing dan di atas perbukitan. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan kerusakan lingkungan di sekitarnya. Perlu kesadaran dari berbagai pihak agar kerusakan alam tidak kian parah.

Perilaku Manusia

Diakui atau tidak, kerusakan lingkungan tersebut akibat perilaku manusia yang tidak ramah terhadap alam. Warga cenderung mengekploitasi lahan untuk kepentingan ekonomi. Kasus itu banyak terjadi di wilayah pegunungan Dieng. Karena hasil yang didapat sangat baik, petani mengabaikan aspek keselamatan tanah dan lingkungan.

Komoditas tanaman keras yang sangat baik untuk menjaga kelestarian alam dibabat habis, diganti dengan tanaman produktif yang menguntungkan, meski dari aspek lingkungan sangat merugikan. Hutan lindung yang semula rimbun disulap menjadi lahan pertanian. Penjarahan hutan selama beberapa tahun hampir terjadi di semua wilayah hutan di Wonosobo.

Tidak itu saja, di wilayah Kertek, tempat terkandung banyak pasir dan batu, terjadi penambangan galian C yang tidak bijaksana, cenderung liar dan tidak peduli dengan kerusakan lingkungan. Meski berkali-kali pemkab melakukan tindakan pencegahan, tapi hingga hari ini pengerukan pasir di kaki Gunung Sindoro itu masih tetap berlangsung.

Padahal, lahan di atas lokasi penggalian menjadi pemasok air yang menjadi sumber penghidupan oleh sebagian warga Wonosobo. Jika penambangan pasir yang tidak ramah lingkungan itu tetap dibiarkan, dikhawatirkan beberapa sumber mata air akan macet dan warga Wonosobo beberapa tahun ke depan bisa mengalami krisis air bersih.

Tidak hanya warga Wonosobo yang terancam mengalami krisis air jika kerusakan lingkungan dan degradasi lahan tidak diatasi. Pasalnya, Wonosobo merupakan penyangga wilayah Kebumen dan Banjarnegara.

Saat ini nyata terjadi akibat penjarahan hutan dan kerusakan lingkungan sedimentasi Waduk Wadaslintang dan Waduk Mrica Banjarnegara tiap tahun selalu naik dan debit airnya berkurang.

Gerakan Menanam

Karena itu, guna mengatasi lingkungan yang makin kritis, upaya penyelamatan harus segera dilakukan. Gerakan Indonesia Menanam yang diikuti Gerakan Wonosobo Menaman harus terus digalakkan. Setidaknya, itu sebagai upaya mendorong masyarakat untuk terus gemar menanam.

Di Wonosobo sendiri Gerakan Wonosobo Menanam terus bergulir. Pasalnya, setelah dicanangkan gerakan penyelamatan lingkungan itu, gerakan sejenis terus berlanjut.

Ada Wakil Rakyat Menanam, Gerakan Wanita Menanam, Gerakan Wartawan Menanam, Gerakan Ibu Menanam Anak Memanen, Gerakan Pramuka Menanam, hingga Gerakan Santri dan Pelajar Menanam di berbagai lahan-lahan kosong milik pemerintah maupun perorangan.

Sayangnya, dari ribuan tanaman keras dan buah yang ditanam, dari data yang ada, hanya empat puluh persen yang berhasil. Sebab, gerakan menanam tersebut belum diikuti dengan gerakan memelihara bersama.

Mudah-mudahan gerakan perempuan tanam, tebar, dan pelihara yang dicanangkan di Bumi Perkemahan Cindai Mas Karanganyar, Wadaslintang, Wonosobo, beberapa waktu lalu tidak sekadar slogan, tapi ada tindak lanjut yang lebih konkret. Dengan demikian, Gerakan Wonosobo Menanam tidak hanya berhenti menanam, tapi juga diikuti dengan gerakan memelihara.

Selain gerakan menaman dan memelihara, harus ada upaya lain untuk menyelamatkan lingkungan. Seabab, rusaknya alam bukan hanya karena penebangan pohon dan penggalian liar, melainkan juga ulah manusia yang suka membuang sampah plastik dan sejenisnya di sembarang tempat. Perilaku itu tidak bisa dibiarkan terus menerus.

Rupaya itu memang masalah sepele, tapi jika tidak dibiasakan sejak dini maka gerakan menyelamatkan lingkungan akan sia-sia belaka. Pasalnya, dampak pembuangan sampah plastik di sembarang tempat tidak bisa dianggap enteng; lastik tidak bisa busuk, dan struktur tanah menjadi rusak dan tidak subur. Pohon yang ditanam pun tidak bisa hidup. Karena itu, mari bersama-sama selamatkan lingkungan!(68)

– Haryati, Sekretaris Pengurus Cabang Fatayat NU dan guru MAN Wonosobo.
 
Email : humas@pertanian.info
Website : http://www.pertanian.info
Saka Taruna Bumi ● WebGis Pertanian ● Suara Petani ● E-Magazine ● E-Document ● E-Reporting ● E-Monev