Info Pertanian: Teknologi Pertanian | Plant Biotechnology | Plant Science | Plant Tissue Culture
Kementerian Pertanian RI ● Dinas Pertanian ● Kampus Pertanian ● Dinas Perikanan ● Dinas Kehutanan ● Lain-lain

Tampilkan postingan dengan label Teknologi Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi Pertanian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Maret 2014

Mari Populerkan Aquaponic, Seni Berkebun Sambil Beternak Ikan

 http://pertaniandotinfo.blogspot.com/
Aquaponics sama tuanya dengan alam itu sendiri. Sylvia Bernstein, yang berkebun hidroponik sejak lama mengatakan, "Aquaponics benar-benar merupakan sistem sirkulasi lahan basah, sehingga sistem itu berjalan tepat di tepi danau kami."
Ia bercocok tanam tanpa tanah, menggunakan pupuk kimia yang larut dalam air, sebelum mengetahui ia bisa menggunakan air limbah dari ikan untuk menanam sayuran dan buah-buahan organik.
"Jujur, saya sangat skeptis dan sangat tidak percaya bahwa sesuatu yang sederhana, seperti limbah ikan, bisa menjadi pupuk yang lengkap. Jadi saya harus benar-benar melihat sistemnya dulu di ruang bawah tanah rumah teman. Tapi ketika saya sudah melihatnya, hal itu mengubah hidup saya," paparnya.
Itu terjadi tiga tahun lalu. Bernstein membangun sistem aquaponics pertamanya bersama anaknya yang berusia 15 tahun pada bantalan beton di luar rumahnya di Boulder, Colorado. Dalam rumah kacanya kini, ia terutama berternak ikan nila dan ikan forel - memberi mereka makan sekali sehari. Tidak ada rumput liar pada kebun aquaponicsnya, dan ia tidak perlu khawatir soal penyiraman. Tanaman tumbuh dalam wadah-wadah setinggi meja supaya mudah diurus.
Bernstein menuturkan lagi, "Baru saja, pagi ini, saya mencabut empat lobak dan sejumlah daun selada untuk makan siang. Dalam rumah kaca saya sekarang ini, saya menanam segala macam tanaman bumbu, tomat, dan paprika."
Bernstein memulai bisnisnya sendiri, The Aquaponics Source, dengan toko di internet, saluran YouTube sendiri, dan blog-nya, theaquaponicsources.com. Ia mengajarkan aquaponics di Denver Botanic Gardens dan baru-baru ini menerbitkan buku tentang cara membuat kebun aquaponic di rumah.
Menurut Berstein, semakin banyak orang di Amerika maupun di seluruh dunia berkebun aquaponics, dan menikmati hasilnya: pasokan makanan yang sehat, aman dan lezat sepanjang tahun.
Internet membantu banyak orang yang berkebun aquaponic saling terhubung dan belajar.
James Godsil, yang ikut mendirikan Sweet Water Organic, kebun aquaponics komersial di Milwaukee, Wisconsin, tiga tahun lalu, mengatakan, "Aquaponics paling pas bagi kesehatan mental dan fisik seseorang.”
Tahun 2010 ia membantu mendirikan yayasan untuk mempromosikan cara baru dalam berkebun itu.
"Yayasan Sweet Water didedikasikan untuk demokratisasi dan globalisasi informasi dan metodologi yang diperlukan dalam memajukan sistem produksi pangan, yang sangat ramah lingkungan ini, yang hanya menggunakan sekitar 10 persen air dari pertanian biasa, dan tidak menggunakan pestisida. Serba alami," papar Godsil lagi.
Menurut Godsil, kelebihan-kelebihan itu telah menjadi insentif dahsyat bagi orang-orang dari semua lapisan masyarakat yang sedang mempertimbangkan karir dalam aquaponics.
"Yayasan Sweet Water mungkin telah memiliki 500 pendukung, termasuk siswa-siswa sekolah, komunitas pensiunan insinyur, profesional, tokoh-tokoh sosial, guru dan seniman. Ada begitu banyak dewasa muda yang akan pensiun dan mencoba karir lain untuk 20 tahun ke depan," tambahnya.
Melalui kerjasama dan proyek bersama, Godsil membawa inspirasi itu ke luar perbatasan wilayah Amerika.
Ia mengatakan, "Saya diminta pergi ke Venezuela Maret ini. Saya bekerja sama dengan orang-orang yang punya proyek di Ekuador. Saya bekerja dengan orang-orang di Kongo, Uganda dan Tanzania."
Subra Mukherjee adalah sekretaris kelompok swasta di Kolkata, India.
Godsil menambahkan, "Kami sudah membentuk inisiatif aquaponics Indo-Amerika ini, dan kami bertujuan menjadikan aquaponics salah satu kegiatan ekonomi yang tumbuh paling cepat di India dalam 10 tahun."
Kelompok swasta itu bernama Masyarakat Teknologi Tepat Guna untuk Agribisnis Pedesaan, yang bermitra dengan Yayasan Sweet Water mengupayakan inisiatif tersebut di India.
Mukherjee menuturkan, “Kami bekerja di lokasi yang disebut Sunderbans, terletak di Bengali Barat. Masyarakat di sini sangat miskin dan kondisi tanahnya membuat tanaman tidak tumbuh. Jadi, saya yakin, teknologi seperti aquaponics ideal untuk situasi-situasi ini. Kita betul-betul bisa melakukannya di tengah-tengah wilayah kumuh di kota-kota. Jadi, ini contoh yang sangat baik bagi masyarakat perkotaan maupun pedesaan.”
Para advokat mengatakan, dengan naiknya harga bahan bakar dan pupuk, sementara pasokan air irigasi berkurang, aquaponics memberi alternatif berkelanjutan yang bisa membantu memberi makan penduduk dunia yang jumlahnya terus bertambah.
sumber: voa-indonesia

Mengganti Manusia Dengan Mesin.

 http://pertaniandotinfo.blogspot.com/
Pagi ini ketika aku berangkat kesawah, pandanganku tertuju pada sebuah mesin besar yang bersiap-siap memasuki lahan persawahan. Sebuah mesin panen padi! dengan kemampuan memanen yang cepat 1 ha dalam 2 jam, serta kemampuan memisahkan gabah hampa, mesin ini dipastikan akan meningkatkan efektifitas kerja petani. Dengan hanya menggunakan tiga orang untuk mengoperasikannya, akan sangat banyak tenaga yang dihemat.

Tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dibeberapa wilayah pertanian yang masih memiliki banyak pekerja dipastikan keberadaan mesin panen padi ini akan memancing sedikit benturan. Benturan antara petani pekerja yang berharap memperoleh hasil dari musim panen dan petani pemilik lahan yang berharap memperoleh keuntungan lebih dari efisiensi jumlah pekerja dan waktu. Dulu, ketika pertama kali traktor mesin dikenalkan, tentangan dari beberapa pihak juga terjadi. tapi seiring waktu, penerimaan petani terhadap traktor mesin juga membaik. dan sekarang hampir semua petani menggunakan traktor mesin.

 http://pertaniandotinfo.blogspot.com/

Jika dilihat dari kondisi pekerja saat ini, dimana kebanyakan petani pekerja merupakan orang tua (anak muda lebih memilih jadi pekerja pabrik) mungkin daam waktu 5 tahun, keberadaan mesin panen padi ini merupakan satu keharusan.

 http://pertaniandotinfo.blogspot.com/
Atau mesin panen padi ini dapat segera terapkan untuk meningkatkan daya saing petani kita, tetapi harus dicarikan solusi yang tepat untuk menyerap sisa pekerja yang jumlahnya tidak sedikit, untuk itu peningkatan kualitas SDM petani pekerja kita juga mutlak dilakukan, sehingga ketika efisiensi itu terjadi mereka bisa terserap ke sektor pekerjaan lain. Pada akhirnya keberadaan tenaga manusia dalam bidang pertanian memang harus dibantu dengan mesin.
 
Email : humas@pertanian.info
Website : http://www.pertanian.info
Saka Taruna Bumi ● WebGis Pertanian ● Suara Petani ● E-Magazine ● E-Document ● E-Reporting ● E-Monev